by

Octoberfest Semeru

Sore hari sekitar pukul 15:00 berlima, kita sampai di Ranu Pane, desa tertinggi dan terdekat ke Taman Nasional Gunung Semeru. Kita berencana untuk mulai hiking keesokan harinya di pagi hari. Menginap di sebuah bengkel motor di sebelah warung didepan masjid, kita menggelar matras dan sleeping bag kita, bersama sang pemandu dan porter, Cak Manan, sambil mendengarkan kisah-kisah pengalaman pendakian beliau ke berbagai gunung.

Berhubung hawanya sudah terasa dingin (padahal baru di kaki gunung), kami menyempatkan untuk menghangatkan diri di dekat api yang di sebelah warung sambil mengobrol dan bercanda sejenak, walaupun ujung-ujungnya kami tidak bisa tidur pulas juga, karena kedinginan dan sedikit terlalu excited tak sabar menunggu hiking besok.

Pagi harinya setelah sarapan seadanya, kami urus dokumen izin masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, berdoa, lalu start trekking. Treknya bisa dikatakan landai dengan jalan setapak yang tidak bikin kaki capek. Mulai dari Pos 2, kami mulai menikmati pepohonan hutan yang tinggi, berlumut dan tebing yang indah.

Dilanjutkan dengan suguhan keindahan Ranu Kumbolo yg mulai terlihat saat mendekati Pos 4. Total perjalanan memakan ± 4 jam dari Ranu Pane sampai ke Ranu Kumbolo. Lalu berteduh di pondokan persis sebelah Ranu Kumbolo. Disini kami beristirahat sejenak sambil menyiapkan makan siang, menikmati ketenangan Ranu Kumbolo (kala itu sepi sekali), dan menghabiskan hasil masakan dalam sekejap.

Tak terasa 2 jam sudah kami habiskan untuk beristirahat, kami melanjutkan perjalanan melalui tanjakan cinta, yang dari kejauhan terlihat enteng, tapi begitu dilalui, nafas terasa ngos-ngosan. Tapi semua itu terbayar lagi dengan suguhan hamparan savanah dibalik tanjakan cinta yang dikenal dengan nama Oro Oro Ombo.

Pukul 18:00 kami tiba di Kali Mati, mendirikan tenda, api unggun, menyiapkan makan malam, lalu istirahat untuk menyiapkan tenaga menanjak ke puncak Mahameru dinihari nanti.
Mengapa harus start dinihari? Karena (idealnya) perjalanan menanjak memakan waktu sekitar 4-5 jam, ditargetkan untuk tiba di puncak saat sunrise 5:00 - 06:00. Sedangkan pukul 10:00 keatas sang Mahameru mengeluarkan gas beracun yang bila terhirup dapat menyebabkan kematian.

Saya sendiri gagal mendaki sampai puncak. Bulan oktober pas di puncak kemarau, mengakibatkan jalur ke puncak sangat kering, debu-debu dari pasir mudah beterbangan akibat dari jejak langkah pendaki di depan. Bernafas menjadi lebih sulit akibat debu yang masuk ke hidung. Juga pada ketinggian ± 3000 mdpl oksigen semakin menipis dan menambah kesulitan bernafas. Perlu dicatat pula, trek berpasir dan berbatu membuat step 1 langkah pendakian merosot kembali ke 1/2 langkah (seperti moonwalk-nya Michael Jackson), akhirnya saya dan satu teman lain menyerah turun ke Kali Mati, sementara tiga teman yg lain melanjutkan (dan tidak sampai puncak juga).

Pukul 13:00 kami kembali ke Ranu Kumbolo dan bermalam di sana. Pagi hari saat sunrise, kami langsung sibuk berfoto takut ketinggalan momen seindah ini, di tempat yang seindah ini pula. Dilanjutkan dengan sarapan, lalu packing untuk kembali ke starting point di Ranu Pane. Kali ini kami lewat jalur Ayak-Ayak, yang treknya hanya turuuuuuuun terus sampai ke desa Ranu Pane.

Menyesal memang, saat itu fisik dan perlengkapan kurang memadai untuk mencapai puncak. Tapi Semeru, daya tarikmu menitipkan rindu yang mengharuskanku melangkah disana lagi suatu saat nanti.

gununghikinggallery